Whani Darmawan
Lahir di Yogyakarta 24 Mei 1966. Ia termasuk sosok yang keras, kukuh dan berprinsip. Mulai berkesenian ketika ia duduk dibangku SMP, ketika puisi-puisinya dikirimkan ke Renas (Remaja Bernas), tahun 1985. Setelah pulang sekolah ia sering menonton latihan Teater Dinasti di Pojok Beteng.
Belajar berteater secara otodidak, walaupun ia sempat berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan workshop teater di ASDRAFI. Menurutnya, sekolah hanya menjadi pelengkap perjalanan hidup dan rangsangan pembelajaran komunal dan sebenarnya tidak bisa membentuk karakter seseorang. “Sekarang aku independent sebagai aktor,” katanya.
Pengajar dan pelatih akting di DFC Acting Course bersama Didi Petet dan Hanung Bramantyo ini, sempat berteater bersama sanggar Aksara dan mendirikan Teater Stupa, Kelompok Titian dan Teater Jiwa. Ketika di tanyakan mengenai perbedaan teater dari zaman ke zaman, ia mengatakan teater sekarang lebih pandai mengurus manajemen keuanagan, organisasi dan pengembangan kreativitas individual untuk berani berkarya secara otonom.
Pengalaman yang mengesankan dalam hidupnya adalah “ketika ayahnya, seorang wiyogo spesialis rebab meninggal 19 Mei 2005 lalu, “Cita-cita, energi dan keinginanku yang menggebu untuk ‘merumahkan bapak’ menjadi salah arah, sehingga menuju rumah abadi. Itu sungguh meluluhlantakan perasaanku dan memberiku pelajaran yang sangat berarti,”” ujar ayah dari Olga Paksindra Nareswara ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar